Sunday, July 6, 2014

Salam Lumba -Lumba dari Teluk Kiluan Lampung

Hai Semua!

Kalian yang pernah baca tulisan aku sebelumnya mungkin sudah tahu kalau aku pernah gagal ke Teluk Kiluan pada tahun lalu. Tapi, aku bersyukur bisa mewujudkannya di tanggal 20-23 Juni 2014. Awalnya aku dan beberapa temanku berniat untuk mendatangi pernikahan teman kami yang diadakan disana dan sekaligus berlibur, tetapi akhirnya yang bisa hanya aku dan temanku, Hana. Kami memulai perjalanan dari sepulang dari kantor kami yang berlokasi di daerah Sudirman. Atas saran dari teman, kami berangkat dari Stasiun Gambir dengan bis DAMRI yang langsung menuju ke Lampung.

How To Get There?

1. Naik DAMRI dari Stasiun Gambir menuju Terminal Raja Basa Bandar Lampung (Kelas Bisnis Rp. 135,000 sudah termasuk snack yaitu roti dan air mineral).
2. Terminal Raja Basa ke Hanura bisa naik DAMRI (Rp. 5,000 hanya sampai +/- jam 1 siang) atau 3 kali naik angkutan umum (@ Rp. 3,000).
3. Dari Hanura sampai ke daerah Padang Cermin, naik angkutan bernama kol Rp. 15-25rb per orang.
4. Naik Ojek ke Kiluan Rp. 75,000 - Rp. 100,000.

Kiluan merupakan rumah dari para lumba-lumba. Di Indonesia, ada dua tempat yaitu di Teluk Kiluan dan di Lovina, Bali. Saya sampai sore hari di Teluk Kiluan, tukang ojek kami mengantarkan ke salah satu pemilik penginapan di sana yaitu Pak Khairil (081377695200).

Sneek Peak :D
 Kami beristirahat di homestay yang cukup nyaman. Satu malam disini Rp, 250,000 dengan biaya makan per orang Rp. 15,000. Kami sudah tidak sabar untuk menanti besok hari. Tentu saja bercengkrama dengan lumba-lumba.

Keesokan paginya, jam 6 pagi kami sudah bersiap-siap untuk menuju ke laut dengan menggunakan perahu jikung, biaya yang dikeluarkan adalah Rp. 250,000 yang bisa dinaiki untuk 3 orang. Perjalanan menuju ke tempat tujuan sangat menyenangkan sambil melihat matahari terbit dari sebelah timur. Matahari menyapaku dari balik pulau seakan malu-malu hehe. Ada beberapa perahu jikung juga yang waktu itu bersamaan dengan kami untuk melihat lumba-lumba. Dalam waktu agak lama, masih belum muncul juga. Namun, aku langsung teringat para ranger d Pulau Komodo yang mengingatkanku bahwa mereka adalah hewan liar yang hidup langsung di habitatnya, bukan peliharaan. Maka kita tidak bisa memastikan untuk bertemu atau tidak, jangan salahkan tempat atau pemandunya karena memang mereka tidak disuruh atau dipancing umpan untuk memunculkan keberadaannya. Setelah matahari sudah agak mulai naik sekitar pukul 7 pagi, mereka satu persatu bermunculan. Aku sangat gemas sekali dengan lumba-lumba itu. Mereka seperti main petak umpat dan meledekku. Bagaimana tidak, mereka berkumpul dalam beberapa kawanan dan bergantian bermunculan dari sisi kanan, kiri, depan, dan belakang. Kami sudah memandang jauh di sebelah kanan, ternyata di depan kami muncul dengan cepat lumba-lumba yang menggemaskan. Aku dibuat tertawa oleh mereka, ingin aku cubit saking gemasnya haha. Aku menyerah, aku mengambil video saja karena foto selalu gagal haha maklum deh ya.

Hey human!
Woohoo aku sangat senang sekali, melihat beberapa kawanan lumba-lumba di habitat aslinya, bukan di sirkus dan sebagainya hehehe. Setelah puas melihat lumba-lumba kami menuju ke Pulau Kelapa untuk snorkeling. Airnya sangat bening, pantainya bersih. Spot untuk snorkeling pun sangat tidak diduga-duga. Saya tidak menyangka kalau hanya bergerak sekitar satu meter kedepan, langsung kami diperlihatkan aneka ragam fauna yang berwarna-warni. Ikannya menggemaskan, dia memiliki beberapa warna dan mereka gendut-gendut. Terbayang kan betapa lucunya mereka. Yah andai aku bisa berenang, aku sudah melepas pelampung ini. Masalah yang belum terselesaikan huhuhu. Untung sekali aku dipandu dengan guide, jadi kami bisa berenang sampai ke tengah. Aku merasa seperti terbang, sungguh indah. Kehidupan bawah laut memang sangat menyegarkan mata apabila dilihat. Kami cukup lama snorkeling disana, aku betah sekali hihi. Mata kami sudah segar, kami pun memutuskan untuk kembali ke homestay karena perut sudah lapar.

Setelah mandi dan makan, kami bersiap-siap kembali untuk ke Laguna Gayau. Tempat yang membuatku penasaran karena mereka bilang kami harus trekking terlebih dahulu dan menyebrang ke pulau sebelah dengan kapal. Sesampainya disana, aku sudah melakukan aksi debus. Mesin motor ratusan derajat aku pegang dengan santai karena perahuku goyang. Rasanyaaa tidak perlu ditanya, panasnya tidak hilang sampai beberapa hari. Saya langsung minta es batu untuk menetralkan panas yang hanya sedikit membantu tapi lumayan lah. Trekking yang kutemukan tidak kusangka, pertama aku harus menuruni bukit yang medannya tanah liat, sesampainya dibawah kami disuguhkan ini.


Tapi ternyata ini hanya transit, medan sebenarnya adalah bebatuan yang tersusun acak dan harus ke atas dan bawah. Kami harus memperhatikan langkah dan berpikir harus melangkahkan kaki kemana karena sangat terjal dan tidak ada pegangan.



foto sambil dagdigdug takut jatuh :p
Semua trekking ini lebih mudah jika dilakukan tanpa alas kaki. Perjalanan ini sungguh terbayar dengan pemandangan ini.



It's like a private pool


Perjalanan kembali ke homestay cukup berat karena hujan. Batu menjadi licin dan aku sedikit takut untuk melangkah. Ada satu keluarga juga yang berkunjung jadi kami bisa bersama-sama kembali ke homestay. Malamnya kami mengobrol bersama Pak Khairil dan Pak Lik, sangat menyenangkan sekali. Sekali lagi, suasana kekeluargaan itu kurasakan di saat traveling. Kami berbincang tentang perilaku wisatawan lokal dan asing yang pernah datang, bagaimana kehidupan kota yang hanya memikirkan dunia, dan lainnya.

Keesokan paginya, Pak Khairil sudah membantu kami untuk menghubungi travel untuk menjemput kami. Travel tersebut mengantar kami ke tempat penjualan tiket DAMRI yang terletak di Terminal Panjang. Harga untuk naik travel ini sebesar Rp. 75.000. Bus DAMRI ternyata sudah berangkat sejak jam 10.00 pagi, kalau ingin menunggu hanya bisa menunggu yang akan berangkat jam setengah 5 sore. Hmm cukup lama ya menunggu 5 jam lagi jadi kami memutuskan untuk melanjutkan dengan travel lain lagi dengan membayar 35 ribu sampai ke Pelabuhan Bakauheni. Sampai di pelabuhan, kami membeli tiket kapal seharga Rp. 13.000 menuju ke Pelabuhan Merak. Aku dan temanku sempat tidak merasakan kapal tersebut sudah berjalan.  Kami juga berpikir kenapa kapal ini lama sekali menunggu penumpang. Setelah beberapa lama, kami bingung melihat orang-orang sudah menuju keluar kapal. Apakah orang-orang ini jenuh? ternyataa kapal ini sudah sampai di Pelabuhan Merak. Ya ampun, aku pikir kami baru saja berjalan hahhaha. Serasa sulap, 5 menit saja dari Bakauheni ke Merak :D

Begitulah ceritaku di Teluk Kiluan, semoga bisa memberikan inspirasi untuk kesana.

Bye, see you on another trip, dear travelers!


Thursday, June 5, 2014

Dung Dung Tidung Part 2

        Sebenarnya aku punya anggapan kalau mengunjungi tempat wisata itu cukup sekali, karena Indonesia luas banget jadi lebih baik ke tempat yang baru lagi. Tempat yang asik untuk dikunjungi berkali-kali ya apalagi kalau tidak kampung halaman sendiri, Yogyakarta hihi. Bali juga asik sih untuk dikunjungi berkali-kali aku ga pernah bosen sama dua kota ini.
         Pengalaman kedua aku ke Pulau Tidung ini karena trip dari kantor hehe. Lumayan lah untuk refresh bareng-bareng temen-temen satu lantai kantor. Kali ini kita tidak melalui Muara Angke haha tapi melalui marina.
siap-siap berangkat :p
 

       Kegiatan selanjutnya seperti biasa, snorkeling lalu makan siang. Saat sama sahabatku waktu itu kami tidak mencoba banana boat. Saat ini kami mencoba banana boat. Dan rasanya pada saat dijatuhkan seperti dipatahkan lehernya haha. 


Dan ke jembatan cinta lagi, ada temen-temen yang pada loncat dari jembatan terus byuurr nyebur ke air. Aku cuma bisa ngeliat iri aja. Ga bisa renang -______-



Ya itulah sebagian cerita dari Pulau Tidung kedua kalinya tetep merasa indah pantainya. Pulau Tidung kecil sih yang membuat asik. Seperti ada di pulau tempat bermain, tidak ada tempat tinggal hanya ada tempat makan dan orang-orang yang tertawa bahagia bersama orang-orang tersayang hehe.

Thanks Tidung!

Saturday, May 17, 2014

Dung Dung Tidung Part 1

Karena hobi menulis blog nya telat, jadilah hari ini untuk nulis cerita di Pulau Tidung yang sudah aku kunjungi dua kali hehe. Pertama kali ke Pulau Tidung bersama teman-teman dengan memakai jasa agen perjalanan. Kami sudah lama ingin traveling bersama tapi karena waktu yang agak sulit disatukan, jadilah kami pergi ke Pulau Tidung. Kami berangkat dari Muara Angke naik kapal kayu kesana dan memakan waktu sekitar 3 jam.
baru sampe :D

setelah sampe kita langsung dijemput sama ibu yang mengantar kami ke homestay. Homestay yang kami tinggali cukup nyaman, hanya kamar mandinya saja yang kurang nyaman. Kami langsung berganti pakaian dan menuju ke pantai. Pasirnya putih dan airnya jernih, namun sayang terlihat ada beberapa sampah yang dibuang sembarangan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.






selesai foto-foto sebentar melihat air jernih di pulau tidung, kami siap-siap untuk snorkeling. ini tidak kalah seru, Ikannya memang tidak terlalu banyak tapi tetap bisa bikin hati senang kok :D



Setelah itu kita kembali ke homestay lagi untuk berganti pakaian karena kita akan bermain-main ke Pulau Tidung Kecil. Pulau ini tidak ada tempat tinggal, hanya ada tempat makan dan ada jembatan yang sudah dikenal, yaitu Jembatan Cinta. Namanya saja sudah membuat penasaran hehe.


Jembatan Cinta :D


Udah selesai melihat sunset dari jembatan cinta, kami kembali lagi ke homestay untuk beristirahat. Pemandangan malam di tengah laut yang lama-lama gelap, cukup membuat takut. Mengingat kapal kami adalah kapal kecil dan penerangan juga minim. Sesampainya di homestay kami mandi dan bersiap-siap untuk bakar ikan berbarengan dengan rombongan lain. Rombongan mereka lelaki semua dan kami kikuk karena mereka agak sedikit hmm ya menggodai. Jadi kami jujur agak malas.

Keesokan harinya kami memiliki jadwal untuk melihat tanaman mangrove yang ditanam oleh penduduk sekitar. Untuk mencapai ke tempat tersebut tentu saja menggunakan sepeda yang disewakan disana.



Yup, itu udah deh kegiatan kami yang terakhir, setelah itu kami kembali ke homestay untuk bersiap-siap pulang. Perjalanan ini seru sekali karena bepergian bersama dengan sahabat :)









Wednesday, April 2, 2014

Rumah Adalah Dimana Pun #radmp

Rumah adalah di mana pun, yup bener banget. Semua tempat itu bisa seperti rumah kalau kita bisa mudah beradaptasi dengan sekitar. Tapi "Rumah Adalah Dimana Pun" disini adalah judul buku yang mengangkat perjalanan 19 orang perempuan. Kisahnya dari barat ke timur Indonesia. Semua ceritanya mengisahkan arti perjalanan bagi seorang perempuan. Cinta, kekeluargaan, kekaguman, dan hal-hal menarik lainnya bisa ditemukan di buku ini. Buku ini sangat cocok buat para petualang yang memiliki hobi berkeliling Indonesia. Di dalam cerita, terdapat pula cara-cara menuju ke tempat-tempat yang mereka ceritakan. 


Aku ikut menulis salah satu cerita di buku ini. Kok bisa??


Setelah pulang dari Flores, aku memang berniat untuk menuliskan ceritaku di dalam blog. Kebetulan setelah baru selesai membuat blog ini aku melihat tweet dari @Backpackerstore yang sedang membuka audisi untuk submit blog yang nantinya akan dipilih dan dituliskan dalam sebuah buku. Tentu saja aku langsung ikut memberikan blog baruku ini. Setelah beberapa lama, aku mendapat tweet dari mereka bahwa aku terpilih untuk menjadi salah satu penulis di project ini. WOW!! tidak ada yang lebih menyenangkan dari itu. 


Kami diberitahukan untuk memberikan tulisan tentang perjalanan yang paling bermakna bagi kami. Tentu saja aku pilih Desa Adat Wae Rebo. Tempat yang paling berkesan dan memiliki nilai kekeluargaan selama aku di Flores waktu itu. Proses pembuatan buku ini sangat seru khususnya untuk aku yang baru pertama kali terjun dalam dunia penulisan.

At Gramedia bookstore :")


Buku ini pertama kali diterbitkan di Gramedia pada tanggal 17 Maret 2014. 10 hari menjelang ulang tahunku hehehe. This is my early birthday gift from God :")



My Part :")
Sedikit aku kasitau judul-judul cerita yang ada di dalam buku ini:

1. Kabut Cinta Mandalawangi
2. Di Tebing Tomini, Aku Jatuh Cinta Begitu Dalam
3. Aku Terpikat Padamu, Wae Rebo
4. Melarung Ingatan Tentangmu Di Bromo
5. Selalu Ada Cerita Manis Di Blue Fire
6. Yeay.. Banyak Kenangan Di Derawan
7. Mahameru Menyapaku "Hai Rinjani"
8. Kelana Bentang Ranah Minangkabau
9. Rumah Adalah Dimana Pun
10. Persisan Anta Tuan
11. Melangkah ke Selatan Pulau Sulawesi
12. Bersantai di Sabang, Santai Bang!
13. Pashmina Tanda Cinta
14. Pelajaran Di Baluran
15. Pulau Dewata Punya Cerita
16. Sepenggal Kisah di Pulau Sang Mutiara Hitam
17. Ini Bukan Mimpi
18. Gua Jepang di Paris Van Java
19. Sepotong Surga yang Tuhan Titipkan


Selamat Membaca :")

xoxo


Saturday, March 8, 2014

Berangkatnya ke Kiluan, Sampainya di Pulau Pari (?)

Flashback ke awal Maret tahun 2013,

Aku dan sahabatku rhyka ceritanya ingin ikut open trip ke Kiluan karena ingin sekali melihat lumba-lumba dan pemandangannya yang indah. Aku yang baru pertama kali mau ke Sumatera tentu aja tidak sabar. Aku sudah packing sampai barang-barang yang tidak dibutuhkan juga terbawa. Aku rasa itu baju untuk sebulan padahal hanya untuk tiga hari kalo tidak salah (lebay). Pokoknya tas ransel aku berat -____- Meeting point waktu itu jam 12 malam di Merak. Hmm, nekat sih ini. Kami berdua tidak tahu cara menuju kesana. Yaudah deh demi si lumba-lumba kami berani. Kami berangkat pulang kantor dengan berbekal menanyakan jalan sama teman-teman sebelumnya. Kantor kami di Sudirman dan kami naik Transjakarta ke Slipi. Lalu, kami menunggu bis yang langsung menuju ke Merak. Prinsipnya kami tidak boleh terlihat seperti orang yang tidak mengetahui apa-apa. Akhirnya datang juga bis tanpa nomor dan ada kernetnya ya berteriak "Merak Merak". "Che itu bis kita!". Kami langsung naik bis tersebut.
Perjalanannya cukup lama dan jalanan yang dilalui sekelilingnya gelap. Sebenarnya takut juga karena kami tidak tahu itu tepatnya dimana. Di dalam bis kami masih saja bisa tertawa geli karena lagu yang diputar sangat lucu. Semacam lagu luar negeri yang di remix menjadi disko-disko asik gitu hahaha. Setelah perjalanan yang panjang, sampai juga di Pelabuhan Merak. Kami langsung ke tempat meeting point-nya. Tapi karena kami datang lebih awal dua jam, jadi kami duduk sambil ngemil dulu di Dunkin Donuts. Jam sudah menunjukkan setengah 12 malam tetapi tidak terlihat penampakkan orang-orang yang berkumpul. Kami sudah mulai merasa curiga. Aku minta Rhyka untuk telfon ke contact person dari travel agent itu. Di telfon tidak aktif, sms tidak di bales saking putus asanya kami sampai memberi pesan lewat facebook ke orang itu. Akhirnya dia membalas juga melalui fb dan menelfon balik si Rhyka. Dari gelagat-gelagat temen aku kayanya ada firasat buruk. Ternyata benar, orang itu bilang kalo dia ngerasa udah ngasitau ke semua peserta open trip kalo Trip ke Kiluan di undur. ANJRIT! Aku sama Rhyka udah gatau mau nangis apa gimana saking keselnya. Ke Merak dari kantor aja udah perjuangan banget. Bawa tas dan bawaan berat sambil berdesakan di busway dan harus jalan melewati jalanan busway semanggi yang kayanya panjang banget.

Aku   : "Cuy gue ga mau pulang"
Rhyka: "yaudah kemana, kami ga mungkin juga ke Kiluan sendiri"
Aku   : "yaudah ke Pulau Seribu aja deh ke Pulau Pari gitu kami kan belum pernah"
Rhyka: "Kalo ke Pulau Pari masih berani gue, tapi ntar disananya gimana. Kami blm pesen apa-apa"

Percakapan di atas terjadi dengan nada putus asa. Pokonya kalo ketemu kami pas waktu itu kasian banget haha. Maklum lah waktu itu belum pernah buat perjalanan sendiri. selalu mengandalkan open trip.

Akhirnya kami memberanikan diri untuk ke Pulau Pari sendiri, lagi-lagi tanpa tau naik apa dan gatau disana gimana. Kami mampir ke mushola waktu itu untuk ke toilet sambil mikirin kami naik bis apa soalnya kami pikir bisnya bakal ada pagi-pagi. Sampai akhirnya kami melihat orang-orang yang mungkin baru turun dari kapal lalu kami mengikuti mereka. Alhamdulillah mereka menuntun kami ke terminal bis, sudah ramai sekali ternyata. Banyak yang menawarkan ke kota-kota apapun aku sampai pusing. Kepala aku juga udah kaya ter-setting untuk geleng-geleng. Dan tiba-tiba ada yang menawarkan ke Tanjung Priok dan aku geleng-geleng. Setelah jalan beberapa meter, aku baru sadar.

 "lah cuy itu ke Tanjung Priok kenapa gw geleng-geleng ya" 
"lah iya ya yaudah ayo" jawab Rhyka.

Akhirnya kami malah ngejar-ngejar si mas yg tadi lalu diantar ke bis dia. Bis itu menunggu sampai penuh penumpang dulu, hampir dua jam tidak jalan. Di bis ini yaa begitu, aku agak curiga sama yg duduk di belakangku. sempet melihat tangannya ke depan ke arah tasku. Sejak itu aku tidak bisa tidur dan terus memperhatikan keadaan. 
          Kami turun di pedongkelan, Jakarta Utara terus naik taksi ke Muara Angke, disinilah kebingungan dimulai hmm. Sampai di Muara angke yang kami tuju yaitu toilet. Di tengah antrian yang panjang, kami ketemu sama orang yang sedang antri toilet juga. Namanya mas Harto.

Rhyka       : "Mas mau kemana mas?
Mas Harto: " saya mau ke Pulau Pari"
Aku          : "Mas kira-kira masih ada lagi slot untuk dua orang?"
Mas Harto: " Wah saya juga kurang tau. Soalnya diajak juga sama sodara saya"

Akhirnya datang juga saudara Mas Harto dan kami menceritakan keadaan hingga bisa sampai disini. Dia menanyakan ke teman-temannya, dan memberitahukan ke kami kalau hanya bisa untuk satu orang.  Hmm yah sudahlah mau gimana lagi, mungkin kami akan nekat aja disana. Tapi selang beberapa waktu, kami diberitahu kalau bisa ikut rombongan mereka. YEAY! akhirnyaaaa.
          Pada saat bertemu rombongan mereka, kaget juga sih. Mereka sekitar 18 orang laki-laki semua hahah. Sepertinya kami bakal menghancurkan rencana liburan mereka :p Perjalanan mereka diketuai oleh Mas Welly. Dia memberitahukan ternyata ada temannya yang gagal ikut tapi sudah membayar jadi kami diminta untuk bayar setengahnya saja. Bayar penuh juga tidak apa-apa sih sebenarnya soalnya mereka benar-benar membantu banget.
          Kami berangkat ke Pulau Pari bersama-sama, aku udah lelah banget karena tidak bisa tidur sejak kemarin. Sampailah kami di Pulau Pari, kami langsung menuju ke rumah penginapan yang sudah di pesan. Mereka mempersilahkan kami untuk memilih kamar, tentu saja aku sama rhyka tidak terlalu mementingkan hal itu, tidur di kasur luar juga tidak apa-apa karena ini memang trip mereka. Tapi mereka mempersilahkan kami untuk memilih kamar yang ada AC nya sedangkan beberapa dari mereka tidur di kasur luar. Hmm ya sedikit tidak enak juga Kami langsung disuguhkan makan siang. Setelah makan siang, kami langsung snorkeling. Jika dibandingkn dengan Pulau Tidung, disini lebih banyak ikannya. Walaupun aku tidak bisa berenang tapi snorkeling tetep jadi kegiatan favorit kalo jalan-jalan. Kadang jadi nyusahin orang sih haha.





          Setelah snorkeling, kita kembali ke penginapan untuk mandi dan ganti baju karena kita akan main ke Pantai Pasir Perawan. Yeay, dari namanya saja sudah unik dan bikin penasaran. Kita naik sepeda menuju kesana, belum lengkap kalau ke Pulau Seribu tidak main sepeda hehehe. Sesampainya disana, WOW tidak menyangka di Jakarta ada pantai seindah ini. Pasirnya putih dan lebih bersih dibandingkan Pulau Tidung. Disini juga lebih banyak, pada saat itu ada semacam gathering perusahaan yang mengadakan lomba tarik tambang. Kelihatannya seru sekali. 





Hari sudah mulai sore kami bergegas untuk ke spot untuk melihat matahari terbenam. Senja yang sangat indah. Warna orens merekah membuat bayangan hitam kapal-kapal yang lewat. Setelah puas bermain disana, kami kembali untuk makan malam. Saking terbawa suasana, aku sempat berpikir kalo aku lagi di Bali. Suasananya hangat, walaupun kita baru kenal tapi sudah seperti teman lama. Makan malam selesai dan saatnya kembali ke penginapan untuk beristirahat.


          Matahari pagi menyambut pagi itu. Kami segera bergegas untuk melihat matahari terbit. Moment favorit aku selain matahari terbenam. Cuaca sedikit mendung sehingga matahari terbit tidak terlalu terlihat tapi cukup indah untuk diabadikan. 




Setelah selesai berfoto, kami segera menuju tempat untuk menanam tanaman mangrove. Seru sekali, ini pengalaman pertama aku menanam mangrove langsung. Setelah setahun sudah seperti apa ya tanaman yang kami tanam? Hehe.




Selesai sudah kegiatan dua hari satu malam di Pulau Pari. Sungguh mengesankan, pengalaman jalan-jalan yang spontan dan tidak terencana justru menghantarkan ke teman-teman baru yang baik. Thanks for being gentleman guys! Nice to meet you all. Hope we can have another trip again. hehehe

Saturday, November 9, 2013

Amazing Trip in Flores

Flores, kirain cuma bisa dalam angan-angan tapi akhirnya bisa juga kesana!

      Pertama ini rencana temen-temen gue dan gue diajak. Tanpa pikir panjang lagi langsung gw ikut aja. Singkat cerita kita udah booking tiket pesawat ke Bali, Bali - Labuan Bajo dan tiket pulangnya. Tapiiii, ketakutan kita jadi kenyataan. Pesawat Merpati yg berangkat dari Bali ke Labuan Bajo dibatalkan karena ada APEC. Disinilah peran para blogger, soalnya kita tau perjalanan darat ini dari blog traveler sebelumnya. Ini alasan kenapa gw bikin blog sih sebenernya, buat bantuin siapa tau lagi ada yg kesusahan juga hehehe.
       6 Oktober pun datang juga. Kita udah ribet dari beberapa sebelumnya untuk mikir apa aja yg harus dibawa. Alhasil gw membawa tas ransel + tas selempang yg duaduanya lumayan berat -___-. Dari Soekarno Hatta kita sampai juga ke Bali dengan harus berputar-putar di atas bandara karena landasan parkir pesawatnya penuh. Lumayan deh setengah jam. Sampai di Bali, kita dijemput sama kenalan saudaranya temen gue. Dia anter kita makan dulu di tempat masakan padang karena udah kelaperan banget terus ke Pelabuhan Padang Bai. Disinilah pertama kalinya kita bener-bener mencari jalan sendiri ke tempat tujuan. Setelah 5 jam, sampai juga di Pelabuhan Lembar, Lombok. Disini kita udah ditawarin beberapa travel. Travel ini sebenernya orang trus bawa mobil dan antar kita ke tempat tujuan. Kita sambil cerita aja kalau kita cari yang bisa anter ke Labuan Bajo. Akhirnya si supir ini antar kita ke agent yang punya tiketnya. Akhirnya kita dipertemukan sama Pak Haji Taufik dkk yang nawarin tiket terusan semua sampe ke Labuan Bajo. Walaupun kita pindah-pindah kapal dan bis kita udah ga bayar lagi. Bis yg berangkat dari mataram ke Pelabuhan Kayangan cuma ada sore sekitar jam 3. Tadinya mau muter-muter Lombok dulu tapi akhirnya ga jadi. Kita nunggu aja di rumah makan Arema sambil numpang mandi, nge-charge hp, dll. Setelah bis datang kita langsung menuju ke Pelabuhan Sape, trus dari situ kita langsung ke tujuan kita, Labuan Bajo. Hohoho.

Sunset di Pelabuhan Kayangan
           
Sampai juga Di Labuan Bajo


                           
      Setelah sampai di Labuan Bajo, kita sebenernya ketemu sama warga P. Komodo. Dia baik banget. Dia menuntun kita ke tempat makan yang sebenernya itu punya adik iparnya terus kita ngobrol-ngobrol sambil cari penginapan. Dia juga cariin ojek untuk ke hotel yang udah kita temuin yaitu Hotel Puncak Waringin.

View dari Hotel Puncak Waringin
        Malemnya kita ketemu temennya temen gue yang akhirnya dia ngasih tau sewa kapal yg bisa antar kita Island Hopping dann kita dapet juga dengan harga yg udah disepakati. Besoknya, kita langsung check out dan tujuan pertama kita adalah Pulau Rinca. Perjalanannya cukup jauh tapi pemandangannya Subhanallah!.



Pemandangan sepanjang perjalanan ke Pulau Rinca
      Di Pulau Rinca, kita juga sama bisa ngeliat komodo juga. Bedanya, disini komodonya ga sebesar di P. Komodo. Tapi tetep aja deg-deg an juga. Disana juga kita bisa trekking ke lembah gitu dan viewnya bagus untuk foto-foto hehehe.

Di depan Open Gate Pulau Rinca :D

The Komodo Dragon

With the Dragon :S

View dari atas bukit P. Rinca
         Setelah dari Pulau Rinca, kita ke Pink Beach. Penasaran se-pink apa pasirnya hehe. Di pantai ini kapal tidak bisa bersandar sampe pasirnya, jadi harus berenang sekitar 7 meter ke daratan. Ini sangat menyulitkan gue yang tidak bisa berenang. Disini hampir aja gue kebawa arus yang lumayan besar. Bikin takut banget soalnya yang di otak udah yang macem-macem. Tapi akhirnya ditolongin temen untuk ke daratan.
Fun at Pink Beach

White sands + Red Coral

        Setelah dari Pink Beach kita ke Pulau Kalong tapi cuma untuk bermalam di kapal aja. Capenya bener-bener ga dirasain saking senengnya. Keesokan harinya, pagi-pagi kita sudah berangkat lagi ke Pulau Komodo. Tempat yang ditunggu-tunggu. Sesampainya disana, kita trekking lagi dan ketemu sama 3 komodo besar sama satu anak komodo di atas pohon. Yang seru, pas di perjalanan kita ketemu komodo yang hampir aja mau makan rusa. Kita udah siap-siap aja kalo ada apa-apa tapi ternyata rusanya udah keburu kabur. Menurut ranger yang guide kita, komodo itu binatang yg kanibal, mereka makan bayinya sendiri :( Oleh karena itu, bayi komodo langsung menetap di atas pohon sampai umur 3 tahun. Disini semuanya berjalan natural. Maksudnya, walaupun komodo makan bayinya sendiri tapi penjaga disini tidak ada yg mengambil telur untuk diselamatkan supaya berhasil menetas. Komodo juga binatang yg tidak bisa ditebak, bisa aja diam terus tiba-tiba lari cepat. Kita juga tidak boleh terlalu dekat sama komodo, untuk foto minimal 3 meter dari dia. Kita tidak boleh mengayun-ayunkan barang di depannya soalnya nanti menantang dia atau mengira mau diberi makanan. Kalau dikejar komodo, kita harus lari zigzag supaya dia agak kesulitan soalnya larinya cepat banget. Disana kita juga tidak boleh pisah dengan rombongan supaya mudah dikontrol sama ranger. Perempuan yang lagi haid sebenernya boleh kesini, ranger pasti akan menanyakan karena dia harus deket sama rangernya. Perempuan ini bisa membahayakan rombongan kalau komodo mencium bau darah. Jadi gue sih lebih baik ga usah deh ya.

He's behind me :O
        

We were guided by him :D

        Komodo trip udah, saatnya kembali ke Labuan Bajo. Sebelumnya kita mampir lagi ke pulau bidadari untuk snorkeling sebentar. Arusnya lumayan tapi tidak sebesar waktu di Pink Beach. Di Pink beach tidak ada penghuninya, kalau di P. Bidadari ini katanya ada resort jadi ada beberapa turis asing juga pas kita disini. Setelah selesai kita langsung balik lagi ke Labuan Bajo. Sesampainya di Labuan Bajo, kita makan dulu di Le Mediterraneo restaurant italy. Kangen makan pizza setelah 2 hari makan ikan asam manis sama cap cay di kapal haha tapi enak lho lumayan masakannya pak kapten kapal :D Akhirnya temen gue menanyakan travel ke ruteng untuk ke tujuan fantastis selanjutnya, Desa Adat Wae Rebo.  Pertamanya ada orang travel yang nawarin paket ke Wae Rebo dengan harga 8 JUTA. Kita semua kaget dan percaya pasti ga semahal itu. Dan akhirnya kita dapet travel berdasarkan info juga dari pelayan restaurantnya. Setelah dapat travel, kita dijemput di restaurant dan melanjutkan perjalanan ke Ruteng. Cukup lama juga, 4 jam lah. Sampai di Ruteng, kita menginap di Rima Hotel, disini dingin banget jadi ga perlu pake AC. Besoknya kita lagi-lagi tidak tahu harus naik apa, sampai ada mobil angkutan dan kita bilang mau ke Denge. Dia antar kita ke terminal Mena dan naik Otto Kol. Sejenis angkutan umum disana tapi berbentuk truk. Jangan harap ada pintu, naiknya harus manjat ban truk yang besar itu. Jalanan yg ditempuh cukup lama juga dan terjal. Diiringi musik yang random mulai dari dangdut, reggae, sampe lagu korea haha. Setelah deg-degan pasrah selama lebih dari 4 jam sampai juga di Denge. Disini kita bertemu sama Pak Sebastian. Dia mengundang kita untuk ke rumahnya. Dia itu guide ke Wae Rebo. Kita singgah di rumahnya dan disiapin makan siang. Di flores ini ga ada makanan khas, tapi masakan yg paling sering kita temui itu sayur labu. Kita ngobrol-ngobrol sekitar flores dan turis-turis yang pernah kesini. Mereka sangat welcome banget dan baik, kita juga menitipkan tas di rumah pak Sebastian karena cukup berat. Akhirnya jam setengah 3 kita berangkat hiking ke Wae Rebo.
           Tanjakan pertama sangat berat. Gue sempet berpikir bisa atau tidak melanjutkan perjalanan soalnya cape banget. Mungkin karena baru pertama kali hiking juga. Jalurnya terjal, sisi sebelah kiri atau kanannya jurang. Sekarang udah lupa sih rasa capeknya gimana, tapi pokonya pas saat itu bener-bener berat deh buat gue tapi gue tetep semangat hehe. Kalau kesini, lebih disarankan tidak usah membawa barang yang terlalu banyak karena medan perjalanannya cukup berat. Di tengah perjalanan kita ketemu mata air yang bisa diminum langsung. Airnya seperti air es, tempat minumnya sampai berembun.
Pemandangan saat hiking

Mata air asli, segeerr :D
         Akhirnya sampai juga di Desa Adat Wae Rebo. Kita sampai sekitar jam setengah 7 malem. Seru juga malam-malam hiking cuma diterangin lampu handphone haha. Disana kita langsung disambut sama warga adat Wae Rebo terutama sama yang dianggap tetua. Capek selama 4 jam lebih langsung HILANG. 

Di dalam rumah adat Desa Wae Rebo
          Pada saat kita kesana, sedang ada upacara hari ketiga kematian salah satu warga disana. Beruntung kita bisa mengikuti beberapa prosesi acara dan diajak makan bersama. Mereka menyambut kita dengan ramah. Kalau ke Flores, wajib coba kopi hitam khas manggarai. Kopinya enak dan wangi banget. Disana kita ketemu salah satu pekerja LSM Indecon, namanya Mas Sugiharto. Mas Sugi ini lebih mengembangkan Eco Tourism. Dia yang mengajarkan ibu-ibu di Wae Rebo untuk masak yang lebih variasi dan bagaimana mengembangkan potensi desa adat mereka sendiri. Berjasa deh si Mas Sugi ini buat pengembangan Wae Rebo hehe. Disini juga tidak ada sinyal sama sekali, tapi ada sisi positifnya. kita jadi menikmati pemandangan.

With Pak Sebastian (stripes shirt)

Sama salah satu guide yg katanya pernah masuk tv haha


Beautiful Wae Rebo Village

Kopi hitam khas manggarai. Nikmat!

Duduk bareng warga Desa Wae Rebo. So warm like a family :)

Arrie, Rima, Inas, Chlara, Rhyka, and Baul

        Turun dari Wae Rebo juga ga kalah capek karena turunan. Semua berat badan tertumpu di kaki terutama dengkul. Tapi untuk turunnya lebih cepat, hanya membutuhkan waktu 2,5 jam. Setelah sampai ke Denge, kita singgah lagi di rumah Pak Sebastian dan diberi makan siang.

Having so much fun with the kids :") 

At Pak Sebastian's house featuring the kids and Mas Sugi
         Waktunya pulang lagi ke Labuan Bajo. Hal ini bener-bener yang paling menyedihkan selama Flores Trip. Mata udah berkaca-kaca. Anak-anak kecil ini mengantar oto kol yang kita tumpangin sampai pergi. Di hari ini gue menyadari akan segera berpisah sama Flores. Kesan gue sama Flores sangat sangat baik. Alam sama orang-orangnya sama-sama baiknya.

Saddest moment :"(

         Overall, that's my story. I really really recommend you to be here. See you in another trip guys. Let's share each other :")

SEE YAA!!